Strategi Pembelajaran


2.1    Pengertian Strategi Pengaktifan Kelompok
Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particulareducational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertenu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.
Istilah strategi banyak digunakan dalam berbaga bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Misalnya seorang manajer atau pimpinan perusahaan yang menginginkan keuntungan dan kesuksesan yang besar akan menerapkan suatu strategi dalam mencapai tujuannya itu, seorang pelatih akan tim basket akan menentukan strategi yang dianggap tepat untuk dapat memenangkan suatu pertandingan. Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran juga akan menerapkan suatu strategi agar hasil belajar siswanya mendapat prestasi yang terbaik.  Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Kemp (1995). Dilain pihak Dick & Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu  materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Jadi strategi pengaktifan kelompok adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang pendidik kepada peserta didik agar mencapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efesien.

2.2    Strategi Pembelajaran Aktif
Pembelajaran yang dikemukan oleh Silberman,hanya tiga strategi pembelajaran
aktif, penjelasannya sebagai berikut:
1.        Strategi Pembelajaran Aktif SynergeticTeaching
Menurut Silberman (2006:128) strategi pembelajaran Synergetic Teaching memungkinkan para siswa yang memiliki pengalaman berbeda dalam mempelajari materi yang sama untuk saling membandingkan catatan. Selanjutnya Hisyam (2004:35) menjelaskan Strategi Synergetic Teaching adalah strategi yang menggabungkan dua cara belajar yang berbeda. Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi hasil belajar dari materi yang sama dengan cara yang berbeda dengan membandingkan catatan mereka. Sehingga bisa disimpulkan, bahwa strategi Synergetic Teaching adalah penggabungandari dua cara belajar yang berbeda dengan materi yang sama dengan cara membandingkan catatan. Strategi ini membuat siswa lebih mudah untuk memahami materi dengan berbagi pengalaman belajar, selain dapat membuat temannya mengerti dengan yang dijelaskan maka siswa yang menjelaskan juga akan bertambah paham terhadap materi yang dipelajari. Adapun prosedur pembelajaran dengan strategi Synergetic Teaching menurut Siberman (2006:129) adalah:
1.    Bagilah kelas menjadi dua kelompok.
2.    Kirimkan satu kelompok ke ruang lain untuk membaca topik yang Andaajarkan. Pastikan bahwa materi bacaannya tertata dengan baik dan mudah dibaca.
3.    Dalam pada itu, berikanlah pelajaran berbasis ceramah atau lisan tentang materi yang sama dengan yang sedang dibaca oleh kelompok yang adadi ruang sebelah
4.     Selanjutnya, baliklah pengalaman belajarnya. Sediakan materi bacaan tentang topik Anda untuk kelompok yang telah mendengarkan penyajian mata pelajaran dan sediakan materi pelajaran untuk kelompok pembaca
5.    Pasangkan anggota dari tiap kelompok dan perintahkan mereka mengikhtisarkan apa yang telah mereka pelajari.

2.3    Model-Model Pembelajaran
A.      Model Pembelajaran Group To Group Exchange (GGE)
Dalam pembelajaran tipe GGE setiap kelompok diberi tugas yang berbeda, dan masing-masing kelompokmengajarkan apa yang telah dipelajarinyadi depan kelas. Sehingga setiapkelompok siswa berkesempatan untuk bertindak sebagai kelompok ahli untuk kelompok siswa lainnya setelah mengerjakan tugas yang diberikan pada kelompok tersebut. Model ini merupakan strategi yang mudah untuk mendapatkan partisipasi dan akuntabilitas individual dari seluruh kelas (Silberman, 2006: 112).
Prosedur pembelajaran tipe GGE menurut Silberman (2006:158) adalah:
1.    Memilih suatu topik yang mengandung beragam gagasan, peristiwa, posisi, konsep atau pendekatan untuk ditugaskan pada siswa. Topik tersebutharuslah dapat membuat siswa bertukar pandangan atau informasi (Sebagai bahan untuk diskusi).
2.    Membagi kelas itu ke dalam kelompoksesuai dengan banyak tugas. Kemudian memberi masing-masing kelompok waktu yang cukup untuk mempersiapkan penyajian topik yangditugaskan pada kelompok tersebut.
3.    Ketika tahap persiapan telah diselesaikan.Mintalah pada kelompokuntuk memilih siapa juru bicaranya.Mintalah masing-masing juru bicarauntuk mempresentasikan tugas tersebutsecara jelas dan ringkas. Selanjutnya,mintalah kepada kelompok lainnya untuk mengajukan pertanyaanatau tanggapan mereka sendiriterhadap presentasi kelompok penyaji. Apabila ada pertanyaan yangmeragukan kelompok penyaji untuk menjawab maka anggota kelompok lain diizinkan untuk menjawab.
4.    Melanjutkan presentasi berikutnya dari kelompok yang berbeda. Sedemikian sehingga masing-masing kelompok dapat membandingkan informasi dan pandangan yang telah didapatnya.

B.       Strategi Aktif Tipe Everyone Is aTeacher Here (ETH)
Strategi pembelajaran ETH adalah salah satu strategi belajar dengan siswa yang berperan sebagai seorang guru.Materi yang disampaikan oleh teman sendiri lebih mudah untuk dipahami karena latar belakang pengalaman danpengetahuan. Selainmembuat temannya mengerti dengan yang dijelaskannya maka siswa yang menjelaskan juga akan bertambah pemahamannya.Menurut Silberman (2006:183)
prosedur pembelajaran dengan tipe ETHini adalah:
1.        Edarkan kartu indeks pada tiap siswa.Mintalah tiap siswa untuk menuliskan pertanyaan tentang materi pelajaranyang sedang dipelajari.
2.        Kumpulkan kartu, kocok, dan berikan kembali kartu tersebut pada tiap siswa. Mintalah siswa untuk membacapertanyaan yang ada ditanganya dan memikirkan jawabannya.
3.        Mintalah seorang sukarelawan untuk membacakan pertanyaan dan memberikan tanggapan atau jawabannya serta menjelaskan pada temannya.
4.         Mintalah siswa lain untuk menambahkan atau menanggapi pendapat sukarelawan tadi.

2.4  Manfaat Pengaktifan Belajar Kelompok
Radno Harsanto (2007: 44) menjelaskan beberapa manfaat adanya pengaktifan belajar bersama dalam kelompok. Manfaat tersebut antara lain :
1.    Membentuk kerjasama antar siswa. Dengan saling bekerjasama dalam satu kelompok maka akan tertanamkan nilai bahwa saling membantu itu hal yang sangat baik.
2.    Membentuk keakraban dan kekompakan dalam kelas. Dengan adanya belajar bersama dalam kelompok akan membantu siswa mengenal siswa lain, memperhatikan dan membantu teman sekelas, serta menjadi kerasan baik sebagai anggota kelompok kecil maupun anggota dalam seluruh kelas.

3.    Menumbuhkan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam hidup. Keterampilan tersebut antara lain sikap mendengarkan, menerima pandangan orang lain, berkomunikasi secara efektif, menyelesaikan konflik, dan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama
4.    Meningkatkan kemampuan akademis, rasa percaya diri, dan sikap positif terhadap sekolah.
5.    Mengurangi atau bahkan menghilangkan aspek negatif kompetisi. Karena saat ini yang sedang berkembang di masyarakat adalah persaingan bukan kerjasama. Belajar kelompok akan memungkikan terjadinya sebuah diskusi antar angota kelompok.

Isriani Hardiani dan Dewi Puspitasari (2012:20) menjelaskan bahwa manfaat adanya diskusi dalam kelompok antara lain:
1.    Peserta didik akan memperoleh kesempatan untuk berpikir.
2.    Pelatihan bagi peserta didik dalam hal mengeluarkan aspirasinya secara bebas, pendapat,dan sikap.
3.    Bersikap toleran terhadap teman-teman sekelasnya.
4.    Dapat mengubah perilaku efektif siswa secara konkrit seperti sikap dalam suasana kelompok.
5.    Menumbuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik.
6.    Mengembangkan sikap demokratis dan dapat menghagai pendapat orang lain.

Kemungkinan lain yang terjadi dalam belajar kelompok adalah adanya kerja kelompok. Isriani Hardiani dan Dewi Puspitasari (2012: menyatakan bahwa manfaat yang akan didapatkan dari kerjakelompok antara lain:
1.    Mengembangkan sikap siswa untuk bermusyawarah dalam menyelesaiakan sesuatu dan bertanggung jawab.
2.    Menimbulkan suasana kompetitif antar kelompok yang kondusif.
3.    Pengawasan yang dilakukan guru tidak terlalu luas yaitu tertuju pada kelompok bukan indivudu.
4.    Melatih kepemimpinan dan patuh kepada pemimpin.
Dari beberapa pendapat ahli mengenai manfaat belajar kelompok, dapat disimpulkan bahwa manfaat belajar kelompok adalah sebagai berikut:
1.    Membentuk kerjasama antar siswa.
2.    Membentuk keakraban dan kekompakan dalam kelas
3.    Meningkatkan kemampuan akademis, rasa percaya diri, dan sikap positif terhadap sekolah.
4.    Pelatihan bagi peserta didik dalam hal mengeluarkan aspirasinya secara bebas, pendapat,dan sikap.
5.    Mengembangkan sikap demokratis dan dapat menghagai pendapat orang lain.
6.    Melatih kepemimpinan dan patuh kepada pemimpin.

2.5    Bentuk-bentuk Belajar Kelompok
Radno Harsanto (2007: 44-51) menyebutkan bahwa bentukbentuk belajar bersama kelompok adalah sebagai berikut :
1.    Belajar Secara Berpasangan
Dalam bentuk ini, guru membuat pasangan-pasangan sebagai teman belajar. Pasangannya duduk saling bersebelahan seperti pada kelas tradisional. Kegiatan yang dilakukan seperti latihan mengerjakan soal, Tanya jawab dan hafalan.
2.    Kelompok Belajar Mandiri
Dalam bentuk ini, guru membagi siswa yang ada di kelas menjadi beberapa kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari tiga orang siswa dan mereka duduk saling berdekatan. Tugas yang dilakukan oleh kelompok ini adalah memeriksa pekerjaan rumah dan belajar bersama.
3.    Belajar Bersama Secara Berkelompok
Belajar bersama dalam kelompok sangat cocok digunakan untuk mempelajari semua bidang studi, dengan syarat bahwa jawaban yang benar hanya ada satu.
4.    Kelompok Belajar Sistem “Pakar”
Belajar bersama dengan saling melengkapi dapat digunakan untuk mempelajari semua mata pelajaran. Dalam bentuk ini, ada kelompok yang dinamakan kelompok awal dan kelompok pakar. Siswa yang berada dalam kelompok pakar akan bertugas menyampikan apa yang diketahuinya ke kelompok awal.
5.    Kelompok kerjasama dalam tes
Model seperti ini akan mengurangi rasa cemas yang ada dalam diri siswa. Guru berkeliling ke kelompok yang sedang bekerja, mendengarkan siswa dalam mendiskusikan jawaban atas soal.
6.    Regu proyek
Salah satu bentuk belajar bersama dalam kelompok adalah belajar bersama untuk menghasilkan suatu produk. Kegiatan seperti ini akan meningkatkan harga diri siswa. Mereka juga akan menjadi lebih ramah dan akan memperhatikan kebutuhan sesamanya.
7.    Proyek satu kelas
Proyek seluruh kelas memang membutuhkan waktu lama serta tenaga yang tidak sedikit, akan tetapi hasilnya sangat luar biasa yaitu susasana kelas menjadi akrab dan siswa semangat belajar apabila didukung dengan prestasi belajar yang tinggi.
8.    Catatan untuk kompetisi beregu
Persaingan akan membuat membuat permusuhan antar kelompok. Akan tetapi jika dilakukan dalam kelas yang sudah terbentuk kelompok yang kuat dan dilandasi semangat kerjasama,maka persaingan dapat memotivasi siswa untuk berprestasi dan
memberi suasana gembira.

2.6    Metode Mengaktifkan Diskusi/Kelompok
1.      Metode menghitung
Cara atau metode pertama yang bisa dicoba dalam membentuk kelompok diskusi/kelompok belajar yakni dengan cara menghitung, misalnya saja akan dibentuk 5 kelompok, maka siswa diminta berhitung dari 1-5. Siswa yang duduk dibagian depan mulai menghitung angka 1 dilanjutkan dengan siswa yang ada didekatnya dengan angka 2  kemudian siswa yang ada didekatnya menyebut angka 3 dan begitu seterusnya.

2.    Metode Memilih Sendiri Teman Kelompok
Selanjutnya metode yang juga biasa digunakan dalam memilih teman kelompok yakni dengan memberi kebebasan pada siswa untuk memilih sendiri teman kelompoknya, namun metode ini terkadang menimbulkan beberapa masalah.Misalnya saja ada beberapa siswa yang tidak dipilih untuk menjadi kelompok tertentu,al hasil haus dilakukan pembentukan kelompok ulang, siswa biasanya akan membentuk kelompok bersama geng nya.

3.    Kelompok Homogen
Metode ini adalah suatu pembentukan kelompok yang mengelompokkan siswa yang sejenis, misalnya saja siswa laki-laki satu kelompok dengan siswa laki-laki, begitupundengan siswa perempuan dikelompokkan dengan perempuan semuanya.
4.    Kelompok Heterogen
Kelompok heterogen adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya jenis kelamin, kepintaran, latar belakang, suku dan agama. Dalam satu kelompok anak yang pintar dikelompokkan dengan anak yang kurang pintar.
5.    Metode Undian
Cara membentuk kelompok dengan metode undian yakni dengan mengetahui terlebih dahulu jumlah siswa yang ada di dalam kelas, selanjutnya menetukan jumlah kelompok yang akan dibentuk. Misalkan saja dalam kelas ada 20 siswa dan akan dibentuk 5 kelompk maka dibuat gulungan kertas yang bernomorkan angka 1 sebanyak 4, bernomorkan angka 2 sebanyak 4, bernomorkan angka 3 sebanyak 4 buah, bernomorkan angka 4 sebanyak 4 buah dan bernomorkan angka 5 sebanyak 4 buah.
Selanjutnya siswa diminta satu persatu untuk mengambil masing-masing satu gulungan kertas, dan siswa yang mendapat angka sama otomatis menjadi satu kelompok. 

6.    Kelompok besar dan kelompok kecil
Pembentukan kelompok besar dan kelompok kecil tergantung materi pelajaran yang akan dilakukan, kelompok kecil biasanya terdiri dari 2-4 orang perkelompok sedangkan kelompok besar terdiri dari 5-10 angggota kelompok. Dalam diskusi kelompok kecil kemungkinan akan lebih efektif.

2.7    Tujuan dan Manfaat Diskusi Kelompok
Kegiatan diskusi dalam proses pembelajaran dilakukan untuk memberi kesempatan kepada siswa membahas suatu permasalahan atau topik dengan cara setiap siswa mengajukan pendapat, saling tukar pemikiran untuk memperoleh kesimpulan bersama dari diskusi yang telah dilakukan. Ada pun tujuan dan manfaat diskusi antara lain:
1.    Memupuk sikap toleransi; yaitu setiap siswa saling menghargai terhadap pendapat yang dikemukakan oleh setiap peserta diskusi.
2.    Memupuk kehidupan demokrasi; yaitu setiap siswa secara bebas dan bertanggung jawab, terbiasa mengemukakan pendapat, bertukar pikiran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
3.    Mendorong pembelajaran secara aktif, yaitu siswa dalam membahas suatu topik pembelajaran tidak selalu menerima dari guru, akan tetapi melalui kerjasama dalam kelompok siswa belajar mengembangkan kemampuan berpikirnya, belajar memecahkan masalah.
4.    Menumbuhkan rasa percaya diri, yaitu dengan kebiasaan untuk berargumentasi yang dilakukan antar sesama teman dalam kelompok diskusi, akan mendorong keberanian dan terbinanya rasa percaya diri siswa untuk mengajukan pendapat maupun mencari solusi pemecahan.
  
2.8    Langkah-langkah Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi dalam proses pembelajaran termasuk ke dalam satu jenis metode pembelajaran. Setiap metode pembelajaran termasuk diskusi diarahkan untuk terjadinya proses pembelajaran. Setiap metode pembelajaran termasuk diskusi diarahkan untuk terjadinya proses pembelajaran secara aktif dan efektif untuk mencapai tujuan (kompetensi) pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu agar kegiatan agar kegiatan diskusi dapat berjalan dengan lancar, maka dalam melaksanakan kegiatan diskusi tersebut harus memperhatikan atau mengikuti beberapa aspek berikut :
1.        Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi. Kegiatannya antara lain : merumuskan tujuan dan topik yang akan didiskusikan, mengembangkan masalah, catat kesalahan yang menyimpang.
2.        Memperluas masalah, intinya merangkum kembali permasalahan supaya jelas, menjelaskan gagasan peserta didik dengan memberikan informasi yang jelas. Untuk memperjelas setiap pembicaraan dari peserta diskusi, pimpinan diskusi atau guru dapat melakukan hal-hal berikut :
ü  Menguraikan kembali pendapat atau ide yang kurang jelas, sehingga menjadi jelas dipahami oleh seluruh peserta diskusi.
ü  Mengajukan pertanyaan pelacak untuk meminta komentar siswa untuk lebih memperjelas ide atau pendapat yang disampaikannya.
ü  Memberikan informasi tambahan berkenaan dengan pendapat atau ide yang disampaikannya, seperti melalui ilustrasi atau contoh, sehingga dapat lebih memperjelas terhadap ide yang disampaikannya itu.

3.        Menganalisis pendapat peserta didik, antara lain menganalisis alasan yang dikemukakan memiliki dasar yang kuat, menjelaskan hal-hal yang telah disepakati. Setelah diperoleh informasi alasan-alasan dari masing-masing berkenaan dengan pendapat yang berbeda-beda itu, maka selanjutnya pimpinan diskusi dapat menindaklanjuti dengan mencapai kesepakatan terhadap hal-hal mana saja yang disepakati bersama dan mana yang tidak disepakati secara bersama, sehingga dari diskusi tersebut membuahkan kesimpulan bersama.

4.        Meluruskan alur berpikir peserta didik, mencakup mengajukan beberapa pertanyaan menantang siswa untuk berpikir, memberikan contoh-contoh verbal, memberikan waktu berpikir, dan memberi dukungan terhadap pendapat peserta didik yang penuh perhatian.

5.        Meningkatkan partisipasi siswa. Untuk mendorong siswa (peserta didik) ikut aktif urun rembug dalam proses diskusi, ada beberapa aspek yang perlu ditempuh guru atau pemimpin diskusi, anatara lain:
ü Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpendapat atau mengajukan gagasan.
ü Memberikan contoh atau ilustrasi baik bersifat verbal maupun non verbal dimana melalui contoh atau ilustrasi tersebut, menggugah siswa untuk berpikir.
ü Menghangatkan suasana diskusi dengan memunculkan pertanyaan yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat di antara sesama anggota kelompok.
ü Memberikan perhatian kepada setiap pembicara sehingga merasa dihargai dan dengan demikian dapat lebih mendorong siswa untuk berpartisipasi memberikan pemikiran melalui forum diskusi yang dilakukan.
  
6.      Memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam diskusi, terkait dengan memancing semangat berpikir peserta didik, memberikan kesempatan kepada yang belum berbicara, mengatur jalannya sidang diskusi, dan mengomentari pendapat yang dikemukakan. Untuk mendorong partsipasi aktif dari seetiap anggota kelompok dapat dilakukan hal-hal berikut :
ü Memberi stimulus yang ditujukan kepada siswa tertentu yang belum berkesempatan menyampaikan pendapatnya, sehingga siswa tersebut terdorong untuk mengeluarkan buah pikirannya.
ü Mencegah monopoli pembicaraan hanya kepada orang-orang tertentu saja, dengan cara terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa yang dianggap pendiam untuk berbicara.
ü Mendorong siswa untuk merespon pembicaraan dari temannya yang lain sehingga terjadi komunikasi interaksi anatar semua perserta diskusi.
ü Menghindari respon siswa yang bersifat serentak, agar setiap siswa secara individu dapat mengemukakan pikirannay secara bebas berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.
7.      Menutup diskusi merupakan kegiatan akhir dalam diskusi. Ada pun kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh guru atau pemimpin diskusi dalam menutup diskusi antara lain:
ü Membuat rangkuman sebagai kesimpulan atau pokok-pokok pikiran yang dihasilakan dari kegiatan diskusi yang telah dilaksanakan.
ü Menyampaikan beberapa catatan tindak lanjut dari kegiatan diskusi yang telah dilakukan, baik dalam bentuk aplikasi maupun rencana diskusi pada pertemuan berikutnya.
ü Melakukan penilaian terhadap proses maupun hasil diskusi yang telah dilakukan, seperti melalui kegiatan observasi, wawancara, skala dan lain sebagainnya. Penilaian ini berfungsi sebagai umpan balik untuk mengetahui dan memberi pemahaman kepada siswa terhadap peran dan partisipasinya dalam kegiatan diskusi tersebut.


2.9  Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Guru Saat Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan harus dihindari oleh seorang guru dalam membimbing diskusi kelompok kecil yakni:
1.    Mendominasi diskusi.
2.    Membiarkan peserta didik memonopoli.
3.    Membiarkan penyimpangan diskusi.
4.    Membiarkan peserta didik tidak bertanya.
5.    Tidak memperjelas dan mendukung alur berpikir siswa yang salah.
6.     Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

ü  Keunggulan Diskusi Kelompok Kecil
Beberapa keuntungan yang dapat diambil dari diskusi kelompok kecil:
1.    Kelompok menjadi kaya dengan ide dan informasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
2.    Termotivasi oleh kehadiran teman
3.    Mengurangi sifat pemalu
4.    Anak merasa terikat untuk melaksanakan keputusan kelompok
5.    Meningkatkan pemahaman diri anak
6.    Melatih sisa untuk berfikir kritis
7.    Melatih siswa untuk mengemukakan pendapatnya
8.    Melatih dan mengembangkan jiwa social pada diri siswa
ü  Kelemahan Diskusi Kelompok Kecil
1.    Waktu belajar lebih panjang
2.    Dapat terjadi pemborosan waktu
3.    Anak yang pemalu dan pendiam menjadi kurang agresif
4.    Dominasi siswa tertentu dalam diskusi
5.    Tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran ketika siswa kurang siap mengikuti kegiatan pembelajaran

Semua kekurangan tersebut dapat ditekan dengan rencana yang matang dan keterampilan guru mengarahkan, memberi petunjuk yang jelas, memahami kesulitan siswa, dan membagi perhatian pada semua kelompok.
Diskusi kelompok bermanfaat ganda. Tidak hanya pengetahuan siswa yang bertambah. Diskusi kelompok kecil juga memupuk rasa kebersamaan dan berbagi sesama siswa. Untuk mendapatkan hasil maksimal di dalam diskusi kelompok kecil, ada hal-hal yang harus dihindari oleh guru dalam memimpin diskusi kelompok. Hal-hal yang harus dihindari tersebut adalah :
1.      Topik diskusi  yang tidak sesuai dengan minat siswa.
2.      Terlalu mendominasi diskusi dengan cara mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban yang terlalu banyak.
3.      Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi kelompok.
4.      Membiarkan terjadinya pembicaraan yang menyimpang dari topik diskusi atau tidak relevan dengan apa yang sedang dibicarakan.
5.      Terlalu sering menginterfensi siswa dengan pertanyaan atau pernyataan yang sebetulnya tidak penting.
6.      Tidak memberi waktu yang cukup untuk menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai tujuan diskusi.
7.      Tidak memperjelas atau tidak mendukung pendapat siswa.
8.    Gagal menutup diskusi dengan efektif.

Komentar